Terus terang saya agak terkejut begitu mengetahui ada banyak orang yang nggak tahu betapa kotornya liga sepakbola Indonesia. Mulai dari tukang ojek dekat rumah, yang penggemar berat Persib Bandung, sampai kawan dari Detikcom. Mereke melongo waktu saya ceritakan. Mereka pikir Liga Indonesia itu lurus-lurus saja dan hanya kemampuan skill dan teknis belaka yang jadi handycap.
Seperti yang sering saya tulis, Liga Indonesia itu kompetisi yang penuh dengan anomali. Saya berani bilang, liga ini salah urus atau memang sengaja nggak diurus dengan benar. Yang saya maksud bukan teknis permainan sepakbolanya, tapi manajemen kompetisinya yang bobrok.
Pertama, kita lihat dari wasit. Sedikit banyak, sampeyan pasti pernah lihat di tv bagaimana kualitas wasit kita. Tapi menurut saya, perbedaan antara kemampuan teknis dan kebobrokan wasit Indonesia sangat tipis. Tak kentara lagi mana yang salah atau memang sengaja salah!!!
Kawan saya yang kebetulan punya profesi wasit mengatakan kini sudah tak ada lagi aturan tuan rumah “bermain”. Artinya, siapapun bisa memainkan wasit asal dia berani bayar lebih besar, meskipun itu tim tamu. Kawan saya itu pula yang bilang untuk mengikis mafia wasit di Indonesia sangat sulit.
“Coba aja, mas. Misalnya sampeyan jadi wasit di Indonesia bagian timur. Sebelum pertandingan, sampeyan didatengin oknum tim dan diberi pilihan golok dan uang di atas meja. Atau sampeyan justru diancam oknum PM untuk membela tim tertentu, padahal dia itu diitugasi untuk menjaga keamanan sampeyan bekerja.”
“Lho, sampeyan kan bisa melawan, mas. Nggak usah ikut arus,” jawab saya.
“Wah berat, mas. Saya bisa dikucilkan, tak ditugaskan lagi. Karir wasit saya bisa mati total.”
Wow berat juga kalau begitu. Nyaris nggak ada solusi jika secara pribadi pihak terkait tidak punya hati nurani.
Yang kedua, adalah permainan bawah tangan antar manajer tim. Tapi ini modus lama, saya nggak tahu apakah modus ini masih bertahan. Rasanya sih praktek itu sekarang sudah menipis
Contoh kasus jika tim A memiliki jadwal bertemu tim B dan C. Kebetulan tim C adalah tim kuat, maka manajer tim A akan meminta kepada manajer tim B untuk tidak mengakali pemain utamanya agar tidak terkena kartu kuning atau merah atau cedera sehingga nantinya bisa main melawan tim C. Tentu saja, kompromi semacam ini nggak gratis.
(bersambung)